GEMA KESEHATAN https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk <p>Gema Kesehatan is a peer-reviewed and open access journal that published scientific articles in health sciences. Gema kesehatan is published by Poltekkes Kemenkes Jayapura twice a year. p-ISSN 2088-5083/<a href="https://issn.lipi.go.id/terbit/detail/1539138332">e-ISSN 2654-8100</a> . Kemditisaintek has accredited the Gema Kesehatan journal to rank four from 2023 to 2028 based on the decree:10/C/C3/DT.05.00/2025</p> POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA en-US GEMA KESEHATAN 2088-5083 <p>Copyright Notice Authors who publish with Gema Kesehatan (GK) agree to the following terms: Authors retain copyright and grant Gema Kesehatan (GK) right of first publication with the work simultaneously licensed under a <a href="https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0">Creative Commons Attribution License CC-BY-SA</a> </p> STUDI PENDAHULUAN: UJI PROKSIMAT NUGGET IKAN KEMBUNG JAGUNG DAN NUGGET IKAN TUNA JAGUNG SEBAGAI DIVERSIFIKASI OLAHAN PANGAN LOKAL DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/article/view/485 <p>Stunting masih menjadi permasalahan gizi di Indonesia. Salah satu strategi pencegahan stunting adalah melalui diversifikasi pengembangan produk olahan berbasis pangan lokal berupa nugget ikan kembung jagung dan ikan tuna jagung. Penelitian bertujuan menganalisis kandungan gizi (uji proksimat) nugget ikan kembung jagung dan nugget ikan tuna jagung sebagai diversifikasi olahan pangan lokal dalam upaya pencegahan stunting. Jenis penelitian adalah eksperimen dengan menggunakan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL), meliputi tiga formula ikan kembung : jagung dan ikan tuna : jagung dengan rasio F1 (90%:10%), F2 (80%:20%), dan F3 (70%:30%). Penelitian menunjukkan bahwa formula F1 (90%:10%) baik nugget ikan kembung jagung maupun ikan tuna jagung memiliki nilai proksimat, nilai gizi, dan angka kecukupan gizi yang lebih baik dibandingkan dengan formula lain. Formula nugget ikan kembung dan ikan tuna jagung F1(90:10%) dengan komposisi ikan sebesar 36 g/4 g jagung dapat dijadikan sebagai alternatif pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) berbasis pangan lokal bagi balita karena berpotensi dalam mencegah terjadinya stunting ataupun masalah gizi lainnya.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong><strong>Balita, Nugget, Olahan Pangan Lokal, Stunting<br /><br /></strong></p> <p>Stunting remains a major nutritional problem in Indonesia. One strategy to prevent stunting is the diversification of processed products based on local food sources, such as mackerel–corn nuggets and tuna–corn nuggets. This study aimed to analyze the nutritional content (proximate composition) of mackerel–corn nuggets and tuna–corn nuggets as local food-based product diversification for stunting prevention. This experimental study employed a Completely Randomized Design (CRD) consisting of three formulations of mackerel-to-corn and tuna-to-corn ratios: F1 (90%:10%), F2 (80%:20%), and F3 (70%:30%). Proximate analysis was conducted to evaluate nutritional quality. The results indicated that the F1 formulation (90%:10%) of both mackerel–corn nuggets and tuna–corn nuggets exhibited superior proximate composition, nutritional values, and nutritional adequacy levels compared to the other formulations. The F1 formulation, containing 36 g of fish and 4 g of corn, demonstrates potential as an alternative local food-based complementary feeding (MP-ASI) for toddlers, as it may contribute to the prevention of stunting and other nutritional deficiencies</p> <p><strong>Keywords: Toddlers, Nuggets, Local Food Processing, Stunting<br /></strong></p> <p><br /><br /></p> St. Mutiatu Rahmah Darmayanti Waluyo Eman Rahim Lilis Handayani Maesarah Copyright (c) 2025 St. Mutiatu Rahmah, Darmayanti Waluyo , Eman Rahim , Lilis Handayani , Maesarah https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-12-27 2025-12-27 17 2 94 104 10.47539/gk.v17i2.485 EFEKTIVITAS SAFETY INDUCTION TERHADAP PERILAKU K3 PEKERJA OPERASIONAL DAN PEMELIHARAAN DI SEKTOR ENERGI (STUDI DI PT. X) https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/article/view/500 <p>Perilaku keselamatan kerja berperan penting dalam mencegah kecelakaan, namun di PT. X sektor energi masih ditemukan perilaku tidak aman meskipun tingkat kelulusan <em>safety induction</em> cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara pelaksanaan <em>safety induction</em> dengan perilaku K3 pada pekerja operasional dan pemeliharaan. Penelitian menggunakan desain <em>cross-sectional</em> pada 148 pekerja yang dipilih melalui <em>simple random sampling</em>. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dokumentasi, serta dianalisis menggunakan uji <em>chi-square</em>. Hasil menunjukkan 38,5% pekerja tidak lulus <em>safety induction</em> dan 35,8% memiliki perilaku tidak aman. Terdapat hubungan signifikan antara <em>safety induction</em> dan perilaku K3 (p = 0,013; OR = 2,549), di mana pekerja yang tidak lulus memiliki risiko 2,5 kali lebih besar untuk berperilaku tidak aman. Temuan ini memperkuat peran <em>safety induction</em> dalam meningkatkan pengetahuan, iklim keselamatan, dan motivasi keselamatan sesuai kerangka Teori L.Green dan pendekatan perubahan perilaku WHO. Disimpulkan bahwa <em>safety induction</em> yang bersifat partisipatif dan didukung penguatan manajemen berpotensi meningkatkan konsistensi perilaku aman. Penelitian ini memberikan kontribusi baru melalui integrasi Teori L.Green dan strategi perubahan perilaku WHO untuk menjelaskan mekanisme hubungan <em>safety induction</em>, serta penggunaan kelulusan <em>safety induction</em> sebagai indikator objektif efektivitas program yang jarang digunakan dalam penelitian K3 di sektor energi berisiko tinggi.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong><strong>Perilaku K3, </strong><strong><em>Safety Induction</em>, </strong><strong>Sektor Energi</strong></p> <p> </p> <p>Safety behavior plays a critical role in preventing workplace accidents; however, unsafe practices persist at PT X in the energy sector despite a relatively high safety induction pass rate. This study aimed to analyze the relationship between safety induction implementation and occupational safety and health (OSH) behavior among operational and maintenance workers. A cross-sectional study design was employed involving 148 workers selected through simple random sampling. Data were collected using structured questionnaires and documentation, and analyzed using the chi-square test. The results indicated that 38.5% of workers did not pass the safety induction, and 35.8% exhibited unsafe behavior. A statistically significant association was observed between safety induction and OSH behavior (p = 0.013; OR = 2.549), indicating that workers who failed the safety induction were 2.5 times more likely to engage in unsafe behavior. These findings underscore the importance of safety induction in enhancing safety knowledge, safety climate, and safety motivation, in accordance with Lawrence Green’s PRECEDE–PROCEED Model and the World Health Organization (WHO) behavior change framework. It can be concluded that participatory safety induction, supported by strong managerial reinforcement, has the potential to improve consistency in safe behavior. This study contributes novel insights by integrating Green’s theoretical model and the WHO behavior change strategy to explain the mechanism underlying the relationship between safety induction and safety behavior, as well as by utilizing safety induction pass status as an objective indicator of program effectiveness—an approach that is rarely applied in occupational safety research within high-risk energy sectors.</p> <p><strong>Keywords: </strong><strong>Energy Sector, Occupational Safety and Health (OSH) Behavior, Safety Induction</strong></p> Dewinta Risna Murti Zufra Inayah Copyright (c) 2025 Dewinta Risna Murti, Zufra Inayah https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-12-27 2025-12-27 17 2 105 115 10.47539/gk.v17i2.500 PENGETAHUAN DAN SIKAP LANSIA TERHADAP PEMANFAATAN POSYANDU LANSIA DI DESA PABELAN SUKOHARJO https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/article/view/507 <p>Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia menimbulkan berbagai tantangan dalam bidang kesehatan, salah satunya adalah perlunya peningkatan pelayanan kesehatan yang berfokus pada kebutuhan lansia, termasuk melalui posyandu lansia sebagai upaya pemantauan dan peningkatan derajat kesehatan lansia. Namun, tingkat pemanfaatan Posyandu di Desa Pabelan masih rendah, yaitu hanya 64% dari target minimal 70%. Kondisi ini menunjukkan adanya faktor internal lansia yang perlu dianalisis, terutama pengetahuan dan sikap. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi korelasi antara tingkat pengetahuan dan sikap lansia terhadap pemanfaatan posyandu lansia melalui metode penelitian kuantitatif dengan model deskriptif korelatif serta strategi pengamatan <em>cross sectional</em>. Total populasi penelitian terdiri dari 1.043 peserta lansia di posyandu lansia Desa Pabelan dan diambil sampel sebanyak 290 responden dengan menggunakan <em>system random sampling</em>. Data diperoleh menggunakan kuesioner kemudian diolah melalui <em>spearman rank</em> yang memperlihatkan dominasi responden berada pada tingkat pengetahuan yang kurang 57,9% dan sikap lansia yang kurang 55,9% ketika terlibat dalam pemanfaatan posyandu lansia. Temuan kuantitatif memperlihatkan <em>p value</em> 0,000 dengan nilai korelasi 0,431 yang mengkonfirmasi keberadaan hubungan bermakna antara pengetahuan dan sikap lansia terhadap pemanfaatan posyandu lansia.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong><strong>Lansia, Pengetahuan, Sikap</strong></p> <p> </p> <p>The increasing elderly population in Indonesia poses significant public health challenges, particularly the need to strengthen elderly-oriented health services. One such community-based service is the elderly integrated health post (Posyandu Lansia), which plays an important role in monitoring and improving the health status of older adults. However, the utilization rate of Posyandu Lansia in Pabelan Village remains suboptimal at 64%, below the minimum target of 70%. This condition indicates the presence of internal factors among the elderly that require further investigation, particularly knowledge and attitudes. This study aimed to examine the correlation between the level of knowledge and attitudes of the elderly and the utilization of Posyandu Lansia. A quantitative study with a descriptive correlational design and a cross-sectional approach was conducted. The study population consisted of 1,043 elderly participants registered at Posyandu Lansia in Pabelan Village, from which 290 respondents were selected using random sampling. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed using the Spearman rank correlation test. The results showed that the majority of respondents had low levels of knowledge (57.9%) and negative attitudes (55.9%) toward the utilization of Posyandu Lansia. Statistical analysis revealed a p-value of &lt; 0.001 and a correlation coefficient of 0.431, indicating a moderate and statistically significant relationship between elderly knowledge, attitudes, and the utilization of Posyandu Lansia. In conclusion, knowledge and attitudes are significantly associated with the utilization of elderly integrated health posts. These findings highlight the importance of improving health education and fostering positive attitudes to enhance the utilization of Posyandu Lansia services<strong>.</strong></p> <p><strong>Keywords: Attitude, Elderly, Knowledge</strong></p> Farell Safiah Amalia Agus Sudaryanto Copyright (c) 2025 Farell Safiah Amalia, Agus Sudaryanto https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-12-27 2025-12-27 17 2 116 125 KOMBINASI MASSAGE EFFLEURAGE DAN MUSIK KLASIK TERHADAP NYERI PERSALINAN KALA 1 https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/article/view/510 <p>Nyeri persalinan adalah kejadian sensasi fisik yang terkait dengan kontraksi uterus, dilatasi dan penipisan serviks, serta penurunan janin selama persalinan. Nyeri persalinan mulai muncul pada persalinan kala I fase laten saat pembukaan 0-3 cm, nyeri tersebut menyebabkan rasa sakit atau ketidaknyamanan, saat pembukaan 4-7 cm yang dirasakan nyeri agak menusuk dan saat pembukaan 7-10 cm yang dirasakan nyeri menjadi lebih hebat, menusuk dan kaku. Salah satu terapi nonfarmakologi yang dapat digunakan dalam mengurangi nyeri persalinan yaitu <em>massage effleurage</em> dan musik klasik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Kombinasi Massage Effleurage Dan Musik Klasik Terhadap Nyeri Persalinan Kala 1 Di Puskesmas Kandeman Kabupaten Batang. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian Quasy experimental dengan one group pretest posttest design. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 30 orang yang diberikan perlakuan massage effleurage dan terapi musik klasik. Penelitian ini menggunakan uji wilcoxon. Dari uji Wilcoxon didapatkan hasil ada pengaruh kombinasi <em>massage effleurage</em> dan musik klasik terhadap nyeri persalinan kala I. Dalam penelitian ini rata-rata nilai pre test nyeri persalinan adalah 5 dan rata-rata nilai post test nyeri persalinan adalah 3 sedangkan nilai p value nya adalah 0,000. Sehingga hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh kombinasi <em>massage effluerage</em> dan musik klasik terhadap nyeri persalinan kala I fase aktif di Puskesmas Kandeman Kabupaten Batang.</p> <p><strong>Kata kunci: Nyeri Persalinan, </strong><strong><em>Massage Effleurage, </em></strong><strong>Musik Llasik</strong></p> <p> </p> <p>Labor pain is a physiological response associated with uterine contractions, cervical dilation and effacement, and fetal descent during childbirth. Pain typically begins in the latent phase of the first stage of labor at cervical dilation of 0–3 cm and progressively intensifies as dilation increases. During the active phase (4–7 cm), pain is perceived as sharper, and it becomes more intense and rigid at dilation of 7–10 cm. One non-pharmacological approach to reduce labor pain is the combination of effleurage massage and classical music therapy. This study aimed to examine the effect of combining effleurage massage and classical music on labor pain during the first stage of labor at Kandeman Community Health Center, Batang Regency. A quasi-experimental study with a one-group pretest–posttest design was conducted. The sample consisted of 30 women in labor who received effleurage massage combined with classical music therapy. Labor pain intensity was measured before and after the intervention and analyzed using the Wilcoxon signed-rank test. The results showed a significant reduction in labor pain following the intervention. The mean pain score decreased from 5 in the pretest to 3 in the posttest, with a statistically significant difference (p &lt; 0.001). In conclusion, the combination of effleurage massage and classical music therapy has a significant effect in reducing labor pain during the active phase of the first stage of labor at Kandeman Community Health Center, Batang Regency.</p> <p><strong>Keywords: Classical Music, Effleurage Massage, Labor Pain</strong></p> Vita Triani Adi Puteri Vita Lestari Puji Asuti Asih Nur A.T Copyright (c) 2025 Vita Triani Adi Puteri Vita, Lestari Puji Asuti, Asih Nur A.T https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-12-27 2025-12-27 17 2 126 134 10.47539/gk.v17i2.510 KEGEMUKAN PADA REMAJA DI JAKARTA: PENGARUH EMOTIONAL EATING, FAST FOOD, AKTIVITAS FISIK, DAN DURASI TIDUR https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/article/view/514 <p>Kegemukan atau gizi berlebih (<em>overweight</em> dan obesitas) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang prevalensinya semakin meningkat termasuk pada kelompok remaja di perkotaan. Jakarta menempati urutan tertinggi kegemukan pada remaja 16-18 tahun (19,2%). Kegemukan terjadi ketika asupan energi yang dikonsumsi melebihi kebutuhan tubuh sehingga menyebabkan penimbunan lemak dan peningkatan berat badan di atas normal. Pola makan tinggi kalori seperti konsumsi <em>fast food</em> yang berlebihan, durasi tidur yang tidak adekuat, perilaku <em>emotional eating</em>, serta rendahnya aktivitas fisik diduga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko kegemukan pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan konsumsi fast food, durasi tidur, <em>emotional eating</em>, dan aktivitas fisik dengan kejadian gizi berlebih pada remaja di Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain <em>cross sectional</em>. Subjek berjumlah 97 remaja yang berdomisili di Jakarta. Jumlah tersebut sudah sesuai perhitungan estimasi minimal sampel dengan rumus uji hipotesis dua proporsi Lemeshow. Teknik penarikan subjek menggunakan <em>purpossive sampling</em>. <em>Dutch Eating Behavior Questionnaire </em>(DEBQ), <em>Semi-Quantitative</em> <em>Food Frequency Questionnaire</em> (SQ-FFQ), <em>Sleeping Time Quesioner </em>(STQ), <em>Physical Activity Level</em> (PAL) <em>recall</em> merupakan instrumen yang digunakan pada penelitiain ini. Analisis statistik <em>Chi Square</em> atau <em>Fisher’s Exact Test</em> digunakan untuk menganalisis hubungan variabel independen dengan kejadian kegemukan pada remaja. Berdasarkan hasil uji statistik, terdapat hubungan antara frekuensi konsumsi <em>fast food</em> (p=0,036), persentase kontribusi asupan energi (p=0,020), dan persentase kontribusi asupan lemak (p=0,040) dengan kegemukan. Sementara itu, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara durasi tidur (p=0,670), <em>emotional eating</em> (p=0,880), dan aktivitas fisik (p=0,997) dengan kegemukan pada remaja. Kesimpulannya, konsumsi <em>fast food</em> dan asupan energi serta lemak berperan dalam peningkatan risiko kegemukan pada remaja. Oleh karena itu, mengontrol frekuensi dan jumlah konsumsi <em>fast food</em> sangat penting bagi remaja untuk mencegah kegemukan.</p> <p><strong>Kata Kunci<em>: Emotional </em></strong><strong><em>Eating</em>, <em>Fast </em></strong><strong><em>Food</em>, Durasi </strong><strong>Tidur, Kegemukan, Remaja<br /><br /><br /></strong></p> <p>Overweight and obesity are major public health concerns with increasing prevalence, particularly among adolescents in urban areas. Jakarta has the highest prevalence of overweight among adolescents aged 16–18 years (19.2%). Overweight occurs when energy intake exceeds the body’s requirements, resulting in excessive fat accumulation and weight gain. High-calorie dietary patterns, including excessive fast-food consumption, inadequate sleep duration, emotional eating behaviors, and low levels of physical activity, are suspected contributors to the rising prevalence of overweight among adolescents. This study aimed to analyze the associations between fast-food consumption, sleep duration, emotional eating, and physical activity and the occurrence of overweight among adolescents in Jakarta. A quantitative cross-sectional design was employed. A total of 97 adolescents residing in Jakarta were included, meeting the minimum sample size requirement based on Lemeshow’s two-proportion hypothesis formula. Participants were selected using purposive sampling. Data were collected using the Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ), Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), Sleeping Time Questionnaire (STQ), and Physical Activity Level (PAL) recall. Data were analyzed using the Chi-square test or Fisher’s exact test. The results showed significant associations between the frequency of fast-food consumption (p = 0.036), percentage contribution of energy intake (p = 0.020), and percentage contribution of fat intake (p = 0.040) with overweight status. In contrast, sleep duration (p = 0.670), emotional eating (p = 0.880), and physical activity (p = 0.997) were not significantly associated with overweight. In conclusion, fast-food consumption as well as excessive energy and fat intake contribute to an increased risk of overweight among adolescents. Therefore, regulating both the frequency and portion size of fast-food consumption is essential for overweight prevention in this population.</p> <p><strong>Keywords: Adolescents, Emotional Eating, Fast Food Consumption, Overweight, Sleep Duration<br /></strong></p> Desiani Rizki Purwaningtyas Anasya Zahratunnisya Copyright (c) 2025 Desiani Rizki Purwaningtyas, Anasya Zahratunnisya https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-12-27 2025-12-27 17 2 135 147 10.47539/gk.v17i2.514 PERILAKU MENYIKAT GIGI DAN KEJADIAN KARIES PADA MURID SEKOLAH DASAR PADUSUNAN KOTA PARIAMAN https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/article/view/511 <p>Karies gigi merupakan masalah kesehatan utama pada anak-anak, terutama pada usia sekolah dasar. Prevalensinya cukup tinggi pada anak usia sekolah dasar di Sumatera Barat. Karies dapat menyebabkan rasa sakit, gangguan makan dan tidur. Karies dapat dicegah dengan perilaku yang baik dalam menjaga kebersihan gigi. Saat ini hanya 2,8% penduduk Indonesia menyikat gigi pada waktu dan teknik yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis teknik dan waktu menyikat gigi dengan kejadian karies pada murid Sekolah Dasar di Padusunan Pariaman. Metode penelitian kuantitatif dengan desain study <em>cross-sectional</em>, pada 104 responden yang dipilih secara acak. Data mengenai kebiasaan menyikat gigi dinilai melalui kuesioner sedangkan karies dinilai melalui pemeriksaan klinis. Data dianalisis menggunakan uji chi-square untuk menilai hubungan antara perilaku menyikat gigi dengan karies. Hasil penelitian melaporkan terdapat 10,6% siswa mengalami karies. Terdapat hubungan antara kejadian karies dengan waktu menyikat gigi (p-value= 0,00), tekanan saat menyikat gigi (p-value= 0,03) serta penggunaan benang gigi (p-value= 0,021). Kesimpulan: perilaku menyikat gigi mempengaruhi kejadian karies pada anak sekolah. Saran: tindakan mencegah karies dapat dilakukan dengan memperbaiki waktu, frekuensi, teknik menyikat gigi pada anak-anak.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong><strong>Anak, Durasi, Karies, Menyikat Gigi, Waktu</strong></p> <p> </p> <p>Dental caries is a significant public health problem among children, particularly primary school students, with a relatively high prevalence in West Sumatra. Dental caries can cause pain and disrupt eating and sleeping patterns; however, it is largely preventable through appropriate oral hygiene practices. Currently, only 2.8% of the Indonesian population brushes their teeth using the correct timing and technique. This study aimed to analyze the association between tooth-brushing technique and timing and the occurrence of dental caries among primary school students in Padusunan, Pariaman. A quantitative cross-sectional study was conducted involving 104 students selected through random sampling. Data on tooth-brushing behavior were collected using a structured questionnaire, while dental caries status was assessed through clinical examination. Data were analyzed using the chi-square test. The results showed that 10.6% of students had dental caries. Significant associations were found between dental caries and tooth-brushing timing (p &lt; 0.001), brushing pressure (p = 0.03), and the use of interdental cleaning devices (p = 0.021). In conclusion, tooth-brushing behavior significantly influences the occurrence of dental caries among school-aged children. Caries prevention efforts should focus on improving tooth-brushing timing, frequency, and technique in this population.</p> <p><strong>Keywords: </strong><strong>Children,</strong><strong> Dental Caries,</strong><strong> Duration, </strong><strong>Tim</strong><strong>ing, </strong><strong>Toothbrushing</strong></p> Susi Susi Frisnaini Ayuputi Ratnaningtyas Yarsi Wulandari Arymbi Pujiastuty Desy Purnama Sari Copyright (c) 2025 Susi Susi, Frisnaini Ayuputi Ratnaningtyas, Yarsi Wulandari, Arymbi Pujiastuty, Desy Purnama Sari https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-12-27 2025-12-27 17 2 148 162 10.47539/gk.v17i2.511 PENYEBAB KOMPLIKASI PERSALINAN DI BANDAR LAMPUNG https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/article/view/504 <p>Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Lampung mengalami peningkatan dari 96 kasus pada tahun 2022 menjadi 105 kasus pada tahun 2023, dengan Kota Bandar Lampung menempati urutan keempat tertinggi (8,6%). Kondisi ini menunjukkan pentingnya identifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan komplikasi persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan komplikasi persalinan pada ibu bersalin di Kota Bandar Lampung tahun 2024. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel terdiri dari 432 ibu nifas yang berdomisili di Kota Bandar Lampung. Data dianalisis menggunakan regresi logistik dengan tingkat signifikansi 5% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 49,1% responden mengalami komplikasi persalinan. Sebagian besar responden tinggal di wilayah perkotaan (96,5%), memperoleh pelayanan antenatal (97,7%), menerima informasi terkait komplikasi kehamilan dan persalinan (98,1%), melakukan kunjungan Antenatal Care (ANC) ≥6 kali (82,6%), memiliki persiapan persalinan yang baik (98,1%), ditolong oleh dokter (51,4%), dan melahirkan di tempat Praktik Mandiri Bidan (74,2%). Hasil analisis menunjukkan bahwa informasi mengenai komplikasi kehamilan dan persalinan (p = 0,025; OR = 12,148), persiapan persalinan (p = 0,032; OR = 3,836), dan penolong persalinan (p &lt; 0,001; OR = 0,174) berhubungan signifikan dengan kejadian komplikasi persalinan. Analisis multivariat mengidentifikasi bahwa informasi mengenai komplikasi kehamilan dan persalinan merupakan faktor paling dominan (OR = 12,148). Kesimpulannya, pemberian informasi terkait komplikasi kehamilan dan persalinan berperan penting sebagai determinan utama komplikasi persalinan di Kota Bandar Lampung tahun 2024.</p> <p><strong>Kata kunci: Angka Kematian Ibu, Ibu Bersalin, Komplikasi Persalinan</strong></p> <p> </p> <p> </p> <p>Maternal Mortality Ratio (MMR) in Lampung Province increased from 96 cases in 2022 to 105 cases in 2023, with Bandar Lampung City ranking fourth highest (8.6%). This trend highlights the importance of identifying factors associated with childbirth complications. This study aimed to analyze the determinants of childbirth complications among postpartum women in Bandar Lampung City in 2024. A quantitative cross-sectional design was employed involving 432 postpartum women residing in Bandar Lampung City. Data were analyzed using logistic regression with a significance level of 5% (α = 0.05). The results showed that 49.1% of respondents experienced childbirth complications. Most respondents lived in urban areas (96.5%), received antenatal care services (97.7%), obtained information regarding pregnancy and childbirth complications (98.1%), attended ≥6 Antenatal Care (ANC) visits (82.6%), had adequate birth preparedness (98.1%), were assisted by physicians during delivery (51.4%), and delivered at independent midwifery practices (74.2%). Logistic regression analysis revealed that information on pregnancy and childbirth complications (p = 0.025; OR = 12.148), birth preparedness (p = 0.032; OR = 3.836), and type of birth attendant (p &lt; 0.001; OR = 0.174) were significantly associated with childbirth complications. Multivariate analysis identified information on pregnancy and childbirth complications as the most dominant determinant (OR = 12.148). In conclusion, access to adequate information regarding pregnancy and childbirth complications plays a critical role as the primary determinant of childbirth complications in Bandar Lampung City in 2024.</p> <p><strong>Keywords : Childbirth Complications, Maternal Mortality Ratio (MMR), Women in Labor</strong></p> Amrina Octaviana Nelly Indrasari Indah Trianingsih Riyanto Riyanto Copyright (c) 2025 Amrina Octaviana, Nelly Indrasari, Indah Trianingsih, Riyanto Riyanto https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-12-27 2025-12-27 17 2 163 176 10.47539/gk.v17i2.504 MAKANAN TAMBAHAN BROWNIES TEPUNG KACANG HIJAU DAN UBI UNGU UNTUK PENINGKATAN BERAT BADAN ANAK WASTING https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/article/view/496 <p><em>Wasting </em>merupakan salah satu bentuk malnutrisi akut yang ditandai dengan berat badan anak yang jauh lebih rendah dibandingkan tinggi badannya. Kondisi ini mencerminkan kekurangan asupan energi dan zat gizi dalam jangka waktu relatif singkat serta meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan berat badan balita <em>wasting </em>setelah diberikan intervensi berupa brownies berbahan dasar tepung kacang hijau dan ubi ungu. Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama berupa pengembangan formula brownies menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) nonfaktorial. Tahap kedua merupakan penelitian kuantitatif dengan desain <em>quasi experiment</em> menggunakan rancangan <em>one group pretest-postest</em> untuk mengevaluasi efektivitas intervensi terhadap peningkatan berat badan <em>wasting. </em>Populasi penelitian adalah balita <em>wasting </em>berusia 12-49 bulan yang berada di wilayah kerja Puskesmas Merdeka Kota Palembang. Responden dipilih menggunakan teknik <em>simple random sampling</em> dengan jumlah 30 balita, sesuai dengan perhitungan ukuran sampel menurut Lameshow (1997). Intervensi dilakukan dengan pemberian brownies tepung kacang hijau dan ubi ungu sebanyak 100 gram per hari selama 14 hari. Pemberian dilakukan setiap hari dan dikonsumsi di bawah pengawasan hingga habis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata berat badan balita sebelum intervensi adalah 10,65 kg, sedangkan setelah intervensi meningkat menjadi 10,82 kg, dengan rata-rata kenaikan sebesar 0,22 kg. Hasil analisis statistik menggunakan uji <em>paired t-test</em> menunjukkan nilai signifikansi p &lt; 0,001 (p = 0,000) yang mengindikasikan adanya pengaruh signifikan pemberian brownies tepung kacang hijau dan ubi ungu terhadap peningkatan berat badan balita <em>wasting</em>.</p> <p><strong>Kata kunci: Balita, Pemberian Makanan Tambahan, Tepung Kacang Hijau, Tepung Ubi Ungu, <em> Wasting<br /><br /></em></strong></p> <p>Wasting is a form of acute malnutrition characterized by a child’s body weight being significantly lower than expected for their height. This condition reflects inadequate energy and nutrient intake over a relatively short period and increases the risk of morbidity and mortality among children under five years of age. This study aimed to analyze changes in body weight among wasted toddlers following an intervention using brownies made from mung bean flour and purple sweet potato. The study was conducted in two stages. The first stage involved the development of a brownie formula using a non-factorial Completely Randomized Design (CRD). The second stage employed a quantitative quasi-experimental design with a one-group pretest–posttest approach to evaluate the effectiveness of the intervention in increasing body weight among wasted toddlers. The study subjects were wasted toddlers aged 12–49 months residing in the working area of Merdeka Community Health Center, Palembang City. Samples were selected using simple random sampling, with a total of 30 toddlers, based on the minimum sample size calculation according to Lemeshow (1997). The intervention consisted of administering 100 grams of mung bean flour and purple sweet potato brownies daily for 14 consecutive days. The brownies were provided every day and consumed under supervision to ensure complete intake. The results showed that the mean body weight of toddlers before the intervention was 10.65 kg, which increased to 10.82 kg after the intervention, with an average weight gain of 0.22 kg. Statistical analysis using a paired t-test demonstrated a significant difference before and after the intervention (p &lt; 0.001), indicating that the provision of mung bean flour and purple sweet potato brownies had a significant effect on increasing body weight among wasted toddlers.</p> <p><strong>Keywords: Mung Bean Flour, Purple Sweet Potato Slour, Supplementary Feeding, Toddlers, Wasting</strong></p> Anna Giska Imelda Telisa Yulianto Yulianto Eliza Eliza Copyright (c) 2025 Anna Giska, Imelda Telisa, Yulianto Yulianto, Eliza Eliza https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-12-27 2025-12-27 17 2 177 184 10.47539/gk.v17i2.496