https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/issue/feed GEMA KESEHATAN 2026-05-26T21:37:16+09:00 Sanya Anda Lusiana ejournal.gemkes@gmail.com Open Journal Systems <p>Gema Kesehatan is a peer-reviewed and open access journal that published scientific articles in health sciences. Gema kesehatan is published by Poltekkes Kemenkes Jayapura twice a year. p-ISSN 2088-5083/<a href="https://issn.lipi.go.id/terbit/detail/1539138332">e-ISSN 2654-8100</a> . Kemditisaintek has accredited the Gema Kesehatan journal to rank four from 2023 to 2028 based on the decree:10/C/C3/DT.05.00/2025</p> https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/article/view/517 STUDI KUASI EKSPERIMENTAL: PENGARUH WHITE NOISE DALAM PIJAT BAYI TERHADAP KUALITAS TIDUR BAYI 2026-02-19T14:15:32+09:00 Hasna Hanifa novirahardjo@staff.uns.ac.id Noviyati Rahardjo Putri novirahardjo@staff.uns.ac.id Angesti Nugraheni angestinugraheni@staff.uns.ac.id Luluk Fajria Maulina lulukfajria@staff.uns.ac.id Nurul Jannatu Wahidah njwahidah@staff.uns.ac.id <p>Faktor untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak ditinjau dari kualitas tidur. Gangguan tidur banyak terjadi pada bayi usia 6-12 bulan yang menyebabkan kualitas tidur bermasalah. Salah satu terapi non-farmakologi dalam menangani masalah tidur bayi yaitu pijat bayi. Selain itu, sebagai upaya pendukung untuk menghidupkan suasana pijat yang tenang adalah dengan musik. White noise dapat membantu meningkatkan kualitas tidur bayi, sehingga dapat dikombinasikan dalam pijat bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh white noise dalam pijat bayi terhadap kualitas tidur bayi. Penelitian ini menggunakan rancangan kuasi eksperimental dengan <em>pre-post test control group design</em>. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling. Sebanyak 60 bayi usia 6-12 bulan dibagi menjadi 2 kelompok, yakni 30 bayi kelompok intervensi diberikan <em>white noise</em> dalam pijat bayi dan 30 bayi kelompok kontrol hanya diberi pijat bayi. Sebelum dan sesudah intervensi data kualitas tidur bayi diukur dengan kuesioner BISQ (<em>Brief Infant Sleep Questionnaire</em>) dan dianalisis dengan uji <em>Independent Sample T Test</em>. Hasil analisis didapatkan p = 0,042 yang artinya <em>white noise</em> dalam pijat bayi berpengaruh terhadap kualitas tidur bayi. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu <em>white noise</em> dapat digunakan sebagai terapi musik tambahan untuk meningkatkan kualitas tidur bayi. </p> <p><strong>Kata kunci: </strong><strong>Kualitas Tidur Bayi</strong><strong>, </strong><strong>Pijat Bayi, <em>White Noise<br /><br /></em></strong></p> <p>Factors supporting child growth and development can be assessed from the perspective of sleep quality. Sleep disturbances frequently occur in infants aged 6–12 months and may lead to poor sleep quality. One non-pharmacological therapy commonly used to address infant sleep problems is infant massage. In addition, a supportive approach to creating a calm massage environment is the use of musimusic can be used to create a calm and soothing atmosphere during massage sessions. White noise has been shown to help improve infant sleep quality and therefore can be combined with infant massage. This study aimed to determine the effect of white noise during infant massage on infant sleep quality. This study employed a quasi-experimental design with a pretest–posttest control group. Total sampling was used as the sampling technique. A total of 60 infants aged 6–12 months were divided into two groups: 30 infants in the intervention group received white noise during infant massage, while 30 infants in the control group received infant massage only. Infant sleep quality was measured before and after the intervention using the Brief Infant Sleep Questionnaire (BISQ) and analyzed using the Independent Sample T-test. The results showed a p-value of 0.042, indicating that white noise during infant massage had a significant effect on infant sleep quality. In conclusion, white noise can be used as an additional music therapy to improve infant sleep quality.</p> <p><strong>Keywords: </strong><strong>Baby Massage</strong><strong>,</strong> <strong>Infant Sleep Quality</strong><strong>,</strong> <strong>White Noise </strong></p> <p><strong><em> </em></strong></p> 2026-05-26T00:00:00+09:00 Copyright (c) 2026 Hasna Hanifa, Noviyati Rahardjo Putri, Angesti Nugraheni, Luluk Fajria Maulina, Nurul Jannatu Wahidah https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/article/view/512 ASUPAN ZAT GIZI DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN STATUS GIZI PADA CALON PENGANTIN WANITA DI KABUPATEN MAROS 2025-12-22T08:52:49+09:00 nurulannisa pathanah nurulannisapathanah@gmail.com St. Masithah nurulannisapathanah@gmail.com Siti Uswatun Hasanah nurulannisapathanah@gmail.com Syafruddin Syafruddin nurulannisapathanah@gmail.com <p>Kesehatan wanita pada masa prakonsepsi dapat dinilai melalui status gizi sebagai indikator krusial karena berpengaruh terhadap kondisi kehamilan dan kesehatan bayi yang akan dilahirkan. Pelaksanaan penelitian ini mempunyai tujuan guna mengkaji korelasi antara asupan zat gizi (protein, energi, karbohidrat, lemak, maupun zat besi) serta derajat aktivitas fisik dengan status gizi pada wanita prakonsepsi di wilayah kerja Puskesmas Bontoa, Puskesmas Lau, dan Puskesmas Maros Baru, Kabupaten Maros. Desain <em>cross-sectional </em>serta teknik <em>total sampling</em> diaplikasikan pada penelitian ini, dengan total sampel berjumlah 32 responden. Metode <em>food recall</em> 2×24 jam dilaksanakan selama dua hari berturut-turut guna memperoleh data asupan nutrisi, sementara kuesioner <em>Global Physical Activity Questionnaire</em> (GPAQ) diterapkan dalam menghimpun data aktivitas fisik. Penelitian ini menerapkan uji korelasi Spearman dalam analisis data. Temuan penelitian memperlihatkan jika korelasi yang signifikan tidak ditemukan antara asupan protein (p = 0,505), energi (p = 0,673), karbohidrat (p = 0,222), lemak (p = 0,523), zat besi (p = 1,000), serta aktivitas fisik (p = 0,332) dengan status gizi. Simpulan dari penelitian ini yaitu status gizi pada wanita prakonsepsi tidak dipengaruhi secara langsung oleh asupan nutrisi dan tingkat aktivitas fisik. Hal ini diduga berkaitan dengan faktor lain, seperti pola makan yang tidak teratur akibat persiapan menjelang pernikahan.</p> <p><strong>Kata kunci: Aktivitas Fisik, Asupan Zat Gizi, Calon Pengantin Wanita, Status Gizi</strong></p> <p> </p> <p>Women’s health during the preconception period can be assessed through nutritional status, which serves as a crucial indicator because it influences pregnancy outcomes and infant health after birth. The study aimed to determine the correlation between nutrient intake (protein, energy, carbohydrates, fat, and iron) and physical activity levels with the nutritional status of preconception women in the working areas of the Bontoa, Lau, and Maros Baru Community Health Centers in Maros Regency. This study employed a cross-sectional design with a total sampling technique involving 32 respondents. Nutrient intake data were collected using a 2x24-hour food recall conducted over two consecutive days, while the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Data were analyzed using Spearman’s Correlation test. The results showed no significant correlation between protein intake (p=0.505), energy intake (p=0.673), carbohydrate intake (p=0.222), fat intake (p=0.523), iron intake (p=1.000), physical activity (p=0.332) and nutritional status. In conclusion, the nutritional status of preconception women was not directly influenced by nutrient intake or physical activity levels. This finding may be associated with other factors, such as irregular eating patterns related to pre-marital preparations.</p> <p><strong>Keywords: Nutrient Intake</strong><strong>, </strong><strong>Nutritional Status</strong><strong>, </strong><strong>Physical Activity</strong><strong>, </strong><strong>Preconception Women</strong></p> 2026-05-26T00:00:00+09:00 Copyright (c) 2026 nurulannisa pathanah, St. Masithah, Siti Uswatun Hasanah, Syafruddin Syafruddin https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/article/view/513 KUALITAS TIDUR, TINGKAT STRES, DAN PERILAKU MAKAN ANTARA REMAJA OVERWEIGHT DAN OBESITAS 2025-12-18T09:29:24+09:00 trisri jumrah trisrijumrah5@gmail.com St. Masithah trisrijumrah5@gmail.com Fitri Wahyuni trisrijumrah5@gmail.com Bdn. Selvia trisrijumrah5@gmail.com <p>Kelebihan berat badan pada remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat yang terus meningkat dan berisiko menimbulkan obesitas serta penyakit tidak menular pada usia dewasa. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kualitas tidur, tingkat stres, dan perilaku makan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kualitas tidur, tingkat stres, dan perilaku makan antara remaja <em>overweight </em>dan obesitas. Jenis penelitian ini menggunakan desain <em>cross-sectional</em> dengan jumlah sampel sebanyak 83 remaja yang mengalami kelebihan berat badan (<em>overweight</em> dan obesitas) yang dipilih melalui teknik <em>total sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner <em>Pittsburgh Sleep Quality Index</em> (PSQI) untuk menilai kualitas tidur, <em>Self Reporting Questionnaire</em> (SRQ) untuk mengukur tingkat stres, dan <em>Adolescent Food Habits Checklist</em> (AFHC) untuk menilai perilaku makan. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji <em>Chi-Square</em> dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok <em>overweight </em>dan obesitas dalam hal kualitas tidur (p=0,189), tingkat stres (p=0,07), dan perilaku makan (p=0,395). Dapat disimpulkan bahwa kualitas tidur, tingkat stres, dan perilaku makan bukan merupakan faktor yang membedakan secara signifikan antara kondisi <em>overweight</em> dan obesitas pada remaja.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong><strong style="font-size: 0.875rem;">Kelebihan Berat Badan, Kualitas Tidur, Perilaku Makan, Remaja</strong><strong style="font-size: 0.875rem;">, Stres<br /><br /></strong></p> <p>Overweight among adolescents is an increasing public health problem that increase the risk of obesity and non-communicable diseases in adulthood. This condition may be influenced by several factors, including sleep quality, stress level, and eating behavior. This study aimed to analyze the differences in sleep quality, stress levels, and eating behavior between overweight and obese adolescents. This study employed a cross-sectional design involving 83 adolescents with overweight or obesity selected using a total sampling technique. Data were collected using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) to assess sleep quality, the Self Reporting Questionnaire (SRQ) to measure stress levels, and the Adolescent Food Habits Checklist (AFHC) to evaluate eating behavior. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-Square test at a 95% confidence level. The results showed no significant differences between the overweight and obese groups in terms of sleep quality (p=0.189), stress levels (p=0.07), and eating behavior (p=0.395). It can be concluded that sleep quality, stress levels, and eating behavior were not factors that significantly differentiated overweight and obesity among adolescents.</p> <p><strong>Keywords:</strong> <strong>Adolescent, Eating Behaviour, Overweight, Sleep Quality, Stress</strong></p> <p><strong style="font-size: 0.875rem;"> </strong></p> 2026-05-26T00:00:00+09:00 Copyright (c) 2026 trisri jumrah, St. Masithah, Fitri Wahyuni, Bdn. Selvia https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/article/view/516 PENGETAHUAN REMAJA DAN PERILAKU PENCEGAHAN DISPEPSIA 2026-03-12T13:34:27+09:00 Winnerin Amanda Christie winnerinchristie@student.uns.ac.id Evi Rokhayati eviro@staff.uns.ac.id Husnia Auliyatul Umma auliyahusnia@gmail.com Dewinda Candrarukmi candrarukmi.dewinda@gmail.com <p>Dispepsia merupakan kondisi gangguan pencernaan yang umum terjadi pada remaja dan berkaitan dengan pola hidup tidak sehat. Pengetahuan tentang kesehatan menjadi fokus pemerintah dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Remaja sebagai kelompok transisi rentan mengabaikan perilaku hidup sehat, termasuk pencegahan dispepsia. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi pengetahuan dengan perilaku pencegahan dispepsia. Penelitian kuantitatif dengan desain analitik <em>observasional</em> dan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Surakarta (n = 238) dengan <em>total population sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Analisis data melalui dua tahap, yaitu analisis univariat dan bivariat. Analisis bivariat menggunakan Uji <em>Mann-Whitney</em> dan Uji <em>Spearman</em>. Mayoritas responden memiliki pengetahuan dispepsia yang baik (58.8%), sedangkan perilaku pencegahan dispepsia didominasi kategori cukup (50.8%). Hasil analisis korelasi pengetahuan dengan perilaku pencegahan dispepsia tidak signifikan (r = 0.124 ; p = 0.056). Tidak terdapat hubungan pendapatan orang tua dan perilaku pencegahan dispepsia (r = 0.048 ; p = 0.466) serta tidak terdapat perbedaan bermakna berdasarkan jenis kelamin (p = 0.402). Sebaliknya, tingkat pendidikan terakhir orang tua menunjukkan hubungan signifikan dengan perilaku pencegahan dispepsia (r = 0.136 ; p = 0.036). Hasil analisis menunjukkan pengetahuan tidak berhubungan dengan perilaku pencegahan pada remaja. Pencegahan dispepsia yang efektif pada remaja bukan sekedar pengetahuan, diperlukan intervensi komprehensif yang mencakup faktor lingkungan dan keluarga.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong><strong> Dispepsia</strong><strong>, Pengetahuan</strong><strong>, Perilaku </strong><strong>Pencegahan</strong><strong>, Remaja<br /><br /></strong></p> <p>Dyspepsia is a common digestive disorder among adolescents and is often associated with unhealthy lifestyles. Health knowledge has become one of the government’s main focuses in improving poblic health. Adolescents, as a transitional age group, are vulnerable to neglecting healthy behaviors, including dyspepsia prevention practices. This study aimed to analyze the correlation between knowledge and dyspepsia preventive behavior among adolescents. This study employed a quantitative analytical observational design with a cross-sectional approach. The study sample consisted of all eighth-grade students of SMP Negeri 8 Surakarta (n = 238), selected using a total population sampling technique. Data were collected using questionnaires and analyzed through univariate and bivariate analyses. The bivariate analysis employed the Mann-Whitney and Spearman tests. Most respondents had good knowledge of dyspepsia (58.8%), while dyspepsia preventive behavior was predominantly categorized as moderate (50.8%). The correlation analysis showed no significant association between knowledge and dyspepsia prevention behavior (r = 0.124; p = 0.056). In addition, no significant association was found between parental income and dyspepsia preventive behavior (r = 0.048 ; p = 0.466), and no significant differences were observed based on gender (p = 0.402). In contrast, parental educational level showed a significant association with dyspepsia preventive behavior (r = 0.136; p = 0.036). In conclusion, knowledge was not significantly associated with preventive behavior among adolescents. Effective dyspepsia prevention among adolescents requires more than knowledge alone, and should involve comprehensive interventions addressing both environmental and family factors.</p> <p><strong style="font-size: 0.875rem;">Keywords:</strong> <strong style="font-size: 0.875rem;">Adolescents, Dyspepsia, Knowledge, Preventive Behavior</strong></p> <p><strong><br /></strong></p> 2026-05-26T00:00:00+09:00 Copyright (c) 2026 Winnerin Amanda Christie, Evi Rokhayati, Husnia Auliyatul Umma, Dewinda Candrarukmi https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/article/view/518 KAITAN ASPEK SOSIODEMOGRAFI ORANG TUA DENGAN KEJADIAN EARLY CHILDHOOD CARIES (STUDI CROSS-SECTIONAL PADA RA/TK ARRISALAH KOTA PADANG) 2026-03-29T13:08:03+09:00 Arymbi Pujiastuty arymbi.p@dent.unand.ac.id Surma Adnan arymbi.p@dent.unand.ac.id Ulfah Ramadhani arymbi.p@dent.unand.ac.id Sukma Fatimah Azzahra arymbi.p@dent.unand.ac.id <p>Proporsi masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia pada kelompok usia 3-4 tahun sebesar 42.7% dan pada kelompok usia 5 tahun sebesar 56.8%. Prevalensi <em>Early Childhood Caries (ECC)</em> di Kota Padang pada anak usia 2-3 tahun masih tinggi yaitu 72.9%, dengan rata-rata pengalaman karies 3-4 gigi tiap anak. Perilaku orang tua mengabaikan kesehatan gigi dan mulut anak usia dini (<em>dental neglect</em>) berdampak semakin tingginya angka penyakit gigi dan mulut anak usia dini, salah satunya adalah <em>Early Childhood Caries</em> (ECC). Faktor sosiodemografi seperti pendidikan, pekerjaan, pendapatan, serta keikutsertaan dalam program jaminan kesehatan ditemukan mempunyai hubungan tidak langsung terhadap perilaku kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat hubungan faktor sosiodemografi orang tua dengan kejadian <em>Early Childhood Caries</em> (ECC). Penelitian dilakukan pada bulan Februari 2025 dengan desain studi analitik dan pendekatan <em>cross-sectional</em>, Pengambilan sampel memakai teknik <em>purpossive sampling </em>sebanyak 54 anak usia dini yang bersekolah di RA/TK Arrisalah Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Variabel Sosiodemografi diukur melalui kuesioner dan variabel ECC diukur dengan melakukan pemeriksaan intra oral anak usia dini memakai indeks def-t. Data hasil penelitian dianalisa dengan uji <em>Chi-Square</em>. Hasil analisa ditemukan karakteristik sosiodemografi orang tua didominasi oleh pendidikan tinggi, pekerjaan dengan status sedang, pendapatan dengan kategori mampu dan memiliki jaminan kesehatan. Skor def-t anak usia dini rata-rata 6.81±4.794 dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan status jaminan kesehatan orang tua dengan status karies anak usia dini (P&gt;0.05).</p> <p><strong>Kata kunci: </strong><strong style="font-size: 0.875rem;">Anak Usia Dini, <em>E</em></strong><strong style="font-size: 0.875rem;"><em>arly C</em></strong><strong style="font-size: 0.875rem;"><em>hildhood C</em></strong><strong style="font-size: 0.875rem;"><em>aries</em></strong><strong style="font-size: 0.875rem;"> (ECC), Orang Tua, Sosiodemografi<br /><br /></strong></p> <p>The proportion of dental and oral health problems in Indonesia was 42.7% among children aged 3-4 years and 56.8% among children aged 5 years. The prevalence of Early Childhood Caries (ECC) among children aged 2-3 years in Padang City remains high at 72.9%, with an average caries experience of 3-4 teeth per child. Parental neglect of oral health care in early childhood (dental neglect) contributes to the increasing prevalemce of dental and oral diseases among young children, one of which is Early Childhood Caries (ECC). Sociodemographic factors such as education, occupation, income, and participation in health insurance programs have been reported to have an indirect association with health behavior. This study aimed to determine the relationship between parental sociodemographic factors and the incidence of Early Childhood Caries (ECC). The study was conducted in February 2025 using an analytical study design with a cross-sectional approach. Sampling was carried out using a purposive sampling technique involving 54 children enrolled at RA/TK Arrisalah, Koto Tangah District, Padang City. Sociodemographic variables were measured using questionnaires, while ECC status was assessed through intraoral examinations using the def-t index. Data were analyzed using the Chi-Square test. The results showed that most parents had a high educational level, moderate employment status, sufficient income, and health insurance coverage. The mean def-t score among children was 6.81±4.794, and no significant relationship was found between parental education, occupation, income, and health insurance status with ECC status among children (P&gt;0.05). </p> <p><strong>Keywords: Early Childhood, E</strong><strong>arly Childhood Caries (ECC), Parents, Sociodemograpic</strong><strong> Factors</strong></p> <p><strong style="font-size: 0.875rem;"> </strong></p> 2026-05-26T00:00:00+09:00 Copyright (c) 2026 Arymbi Pujiastuty, Surma Adnan, Ulfah Ramadhani, Sukma Fatimah Azzahra https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/article/view/522 DURASI PUASA PRAOPERATIF DENGAN KUALITAS TIDUR PADA PASIEN PASCA OPERASI BEDAH ORTOPEDI 2026-03-16T12:06:00+09:00 Anis Laela Megasari anislaelamegasari@gmail.com Ika Subekti Wulandari ika_subekti07@staff.uns.ac.id <p>Puasa praoperatif merupakan prosedur standar untuk mencegah aspirasi selama anestesi, namun durasi yang melebihi rekomendasi masih sering terjadi dan berpotensi menimbulkan dampak fisiologis maupun psikologis pada pasien. Kondisi ini diduga memengaruhi luaran pascaoperasi, termasuk kualitas tidur yang berperan penting dalam proses pemulihan. Penelitian ini bertujuan menganalisis keterkaitan durasi puasa praoperatif dengan kualitas tidur pascaoperasi pada pasien bedah ortopedi. Penelitian menggunakan desain deskriptif potong lintang dengan menggunakan <em>purposive sampling</em>. Total responden pada penelitian ini sebanyak 200 pasien dewasa yang menjalani operasi ortopedi elektif. Data durasi puasa makanan padat dan cairan dicatat sebelum induksi anestesi, sedangkan kualitas tidur dinilai menggunakan <em>Richards–Campbell Sleep Questionnaire.</em> Analisis bivariat menggunakan uji korelasi <em>chi square test.</em> Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar pasien (82%) menjalani puasa lebih dari 6 jam. Rerata skor RCSQ adalah 37.22 yang menunjukkan kualitas tidur cenderung rendah. Proporsi kualitas tidur buruk secara signifikan lebih tinggi pada kelompok puasa &gt;6 jam (92.7%) dibandingkan kelompok ≤6 jam (58.3%). Uji <em>Chi-square</em> menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara durasi puasa praoperatif dan kualitas tidur pascaoperasi (p = 0.003). <span style="font-size: 0.875rem;">Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara durasi puasa praoperatif dan kualitas tidur pascaoperasi pada pasien bedah ortopedi, dimana durasi puasa yang lebih lama berkaitan dengan penurunan kualitas tidur setelah operasi.<br /></span></p> <p><strong>Kata kunci: </strong><strong style="font-size: 0.875rem;">Bedah </strong><strong style="font-size: 0.875rem;">Ortopedi,</strong><strong style="font-size: 0.875rem;"> Kualitas </strong><strong style="font-size: 0.875rem;">Tidur,</strong><strong style="font-size: 0.875rem;"> Pascaoperasi, </strong><strong style="font-size: 0.875rem;">Puasa </strong><strong style="font-size: 0.875rem;">Praoperatif </strong><strong style="font-size: 0.875rem;"><em>Richards–Campbell Sleep Questionnaire<br /><br /></em></strong></p> <p>Preoperative fasting is a standard procedure intended to prevent pulmonary aspiration during anesthesia. However, fasting durations exceeding recommended guidelines remain common and may lead to physiological and psychological consequences in patients. This condition may influence postoperative outcomes, including sleep quality, which plays an important role in the recovery process. This study aimed to analyze the association between preoperative fasting duration and postoperative sleep quality in patients undergoing orthopedic surgery. This study employed a descriptive cross-sectional design using purposive sampling. A total of 200 adult patients undergoing elective orthopedic surgery were included in the study. The duration of fasting for solid foods and clear fluids was recorded prior to anesthesia induction, while sleep quality was assessed using the Richards–Campbell Sleep Questionnaire (RCSQ). Bivariate analysis was performed using the Chi-square test. The results showed that most patients (82%) fasted for more than 6 hours. The mean RCSQ score was 37.22, indicating generally poor sleep quality. The proportion of poor sleep quality was significantly higher in the group with fasting duration &gt;6 hours (92.7%) compared to the group with fasting duration ≤6 hours (58.3%). The Chi-square test demonstrated a statistically significant association between preoperative fasting duration and postoperative sleep quality (p = 0.003). In conclusion, there was a significant association between preoperative fasting duration and postoperative sleep quality among orthopedic surgery patients, in which longer fasting duration was associated with poorer postoperative sleep quality.</p> <p><strong>Keywords : Orthopedic </strong><strong>Surgery, Postoperative, Preoperative </strong><strong>Fasting, Richards–Campbell Sleep </strong><strong> Questionnaire, Sleep quality</strong></p> <p><strong style="font-size: 0.875rem;"><em> </em></strong></p> 2026-05-26T00:00:00+09:00 Copyright (c) 2026 Anis Laela Megasari, Ika Subekti Wulandari https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/article/view/524 PROFIL DASAR FUNGSI HATI DAN GINJAL PADA ANAK DENGAN LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT 2026-03-27T16:53:28+09:00 Danny Meganingdyah Primartati danny.mp@iik.ac.id Noor Fadillah noorfadillah@umpr.ac.id Aulia Risqi Fatmariza Aulia.risqi@iik.ac.id Fathul Hidayatul Hasanah fathul.hidayatul@iik.ac.id Aprilia Kusumaningrum aprilia.kusumaningrum@iik.ac.id Rahmad Darmawan rahmad.darmawan@iik.ac.id Heka Mareta Nugraheni heka.mareta@iik.ac.id <p>Leukemia limfoblastik akut (LLA) merupakan keganasan tersering pada anak dan membutuhkan terapi intensif yang berpotensi menimbulkan komplikasi organ. Penilaian fungsi hati dan ginjal dasar pada saat diagnosis penting dilakukan untuk mendukung pengambilan keputusan klinis yang aman sebelum inisiasi kemoterapi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil fungsi hati dan ginjal dasar pada anak dengan LLA yang baru terdiagnosis. Penelitian ini menggunakan desain observasional potong lintang dan dilakukan di pusat rujukan hematologi-onkologi anak pada periode Juli 2024 hingga Januari 2025. Subjek penelitian adalah 40 anak berusia ≤18 tahun dengan diagnosis LLA yang belum mendapatkan terapi. Parameter fungsi hati yang dinilai meliputi aspartat aminotransferase (AST), alanin aminotransferase (ALT), dan albumin serum, sedangkan parameter fungsi ginjal meliputi <em>blood urea nitrogen</em> (BUN) dan kreatinin serum. Analisis statistik mencakup analisis deskriptif, uji perbandingan berdasarkan usia dan jenis kelamin, serta analisis korelasi antarparameter. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan AST dan ALT pada sebagian pasien dengan korelasi positif yang kuat (r = 0.707; p &lt; 0.001), yang mencerminkan stres hepatoseluler dini. Kadar albumin relatif terjaga dan tidak berkorelasi bermakna dengan transaminase, menunjukkan fungsi sintetik hati yang masih baik. Parameter ginjal umumnya berada dalam batas normal, dengan korelasi positif bermakna antara BUN dan kreatinin (r = 0.314; p = 0.048), mengindikasikan variasi subklinis fungsi ekskresi ginjal. Tidak ditemukan perbedaan bermakna berdasarkan usia dan jenis kelamin, kecuali kreatinin yang dipengaruhi faktor fisiologis usia. Penelitian ini menegaskan bahwa evaluasi fungsi hati dan ginjal dasar memiliki signifikansi klinis penting dalam penatalaksanaan awal LLA anak, meskipun kelainan yang ditemukan bersifat ringan dan subklinis.</p> <p><strong>K</strong><strong>ata kunci: </strong><strong style="font-size: 0.875rem;">Karakteristik Dasar, Leukemia Limfoblastik Akut, Onkologi Anak</strong><strong style="font-size: 0.875rem;">, Profil Ginjal, Profil Hati<br /><br /></strong></p> <p>Acute lymphoblastic leukemia (ALL) is the most common childhood malignancy and requires intensive chemotherapy that may predispose patients to organ-related complications. Assessment of baseline hepatic and renal function at diagnosis is essential to support safe clinical decision-making prior to treatment initiation. This study aimed to describe baseline hepatic and renal function profiles in children with newly diagnosed ALL. A cross-sectional observational study was conducted at a tertiary pediatric hematology–oncology center between July 2024 and January 2025. Forty treatment-naive children aged ≤18 years with confirmed ALL were included. Baseline hepatic function parameters assessed included aspartate aminotransferase (AST), alanine aminotransferase (ALT), and serum albumin, while renal function parameters included blood urea nitrogen (BUN) and serum creatinine. Statistical analyses comprised descriptive analysis, comparisons by on age and sex, and correlation analyses among laboratory parameters. Elevated AST and ALT levels were observed in a subset of patients, with a strong positive correlation between the two enzymes (r = 0.707; p &lt; 0.001), indicating hepatocellular stress at diagnosis. Serum albumin levels were generally preserved and showed no significant correlation with transaminases, suggesting intact hepatic synthetic function despite elevated enzyme levels. Renal function parameters were largely within age-appropriate ranges, with a significant positive correlation between BUN and serum creatinine (r = 0.314; p = 0.048), reflecting subtle variations in renal excretory function without overt impairment. No significant differences in hepatic or renal parameters were observed according to age or sex, except for creatinine, which likely reflected physiological age-related variation. These findings suggest that mild hepatic and renal alterations may already be present at diagnosis in pediatric ALL. Systematic baseline evaluation of organ function, even when abnormalities appear subclinical, remains clinically important for treatment planning, monitoring strategies, and prevention of therapy-related complications.</p> <p><strong>Keywords:</strong> <strong>Acute Lymphoblastic Leukemia, </strong><strong>Baseline Characteristics</strong><strong>, Hepatic Profile, Pediatric Oncology, Renal Profile</strong></p> <p><strong style="font-size: 0.875rem;"><br /><br /></strong></p> 2026-05-26T00:00:00+09:00 Copyright (c) 2026 Danny Meganingdyah Primartati, Noor Fadillah, Aulia Risqi Fatmariza, Fathul Hidayatul Hasanah, Aprilia Kusumaningrum, Rahmad Darmawan, Heka Mareta Nugraheni https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/article/view/525 RISIKO LEPTOSPIROSIS PADA AKTIVITAS KERJA PETUGAS KEBERSIHAN DI KOTA SEMARANG: STUDI KUALITATIF 2026-03-11T13:22:13+09:00 Aerrosa Murenda Mayadilanuari aerrosa.murenda@unkartur.ac.id Meita Fransiska Dara Antindi meitafransiska28@gmail.com Aliya Rachma Tingka Pitatan aliyarachma4@gmail.com Adellia Retno Sulistyana adeliarsl50@gmail.com Crishtopher Arthur Fernando christopher260805@gmail.com Michael Benedict Sanjaya benedictmichael462@gmail.com <p><em>Leptospirosis </em>merupakan penyakit zoonosis yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, khususnya pada kelompok pekerja dengan paparan lingkungan berisiko tinggi seperti petugas kebersihan. Tingginya kasus <em>leptospirosis</em> di Kota Semarang menunjukkan adanya potensi risiko yang signifikan pada kelompok pekerja ini, terutama di wilayah yang sering banjir dan memiliki sanitasi lingkungan yang kurang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko <em>leptospirosis</em> berdasarkan kondisi lingkungan kerja, aktivitas kerja, pemahaman, persepsi risiko, perilaku pencegahan, serta dukungan yang diterima petugas kebersihan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam terhadap tujuh petugas kebersihan, serta triangulasi sumber untuk meningkatkan validitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan kerja didominasi oleh kondisi berisiko seperti genangan air, lingkungan lembap, drainase terbuka, dan keberadaan tikus, serta aktivitas kerja yang melibatkan kontak langsung dengan sampah basah dan air kotor yang dilakukan secara berulang. Penggunaan alat pelindung diri belum dilakukan secara konsisten, dan pemahaman responden mengenai <em>leptospirosis</em> masih terbatas meskipun terdapat kesadaran terhadap risiko pekerjaan. Selain itu, keterbatasan edukasi kesehatan dan dukungan institusi turut memengaruhi upaya pencegahan. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa petugas kebersihan memiliki risiko tinggi terhadap <em>leptospirosis</em> sehingga diperlukan penguatan edukasi kesehatan, peningkatan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri, serta perbaikan sistem keselamatan dan kesehatan kerja sebagai upaya pencegahan yang berkelanjutan.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong><strong style="font-size: 0.875rem;">Kesehatan kerja, </strong><strong style="font-size: 0.875rem;"><em>Leptospirosis</em></strong><strong style="font-size: 0.875rem;">, </strong><strong style="font-size: 0.875rem;">Petugas kebersihan, </strong><strong style="font-size: 0.875rem;">Studi kualitatif<br /><br /></strong></p> <p>Leptospirosis is a zoonotic disease that remains a significant public health problem, particularly among workers exposed to high-risk environmental conditions, such as sanitation workers. The high incidence of leptospirosis in Semarang City indicates a substantial risk for this occupational group, especially in flood-prone areas with inadequate environmental sanitation. This study aimed to analyze the risk of leptospirosis based on working environmental conditions, work activities, knowledge, risk perception, preventive behavior, and institutional support among sanitation workers. This study employed a descriptive qualitative approach. Data were collected through field observations and in-depth interviews with seven sanitation workers. Source triangulation was applied to enhance data validity. The findings revealed that the working environment was dominated by high-risk conditions, including standing water, humid environments, open drainage systems, and the presence of rodents, as well as routine activities involving direct contact with wet waste and contaminated water. The use of personal protective equipment (PPE) was not consistently practiced, and respondents’ knowledge of leptospirosis remained limited despite their awareness of occupational health risks. In addition, limited health education and institutional support contributed to inadequate preventive practices. In conclusion, sanitation workers are at high risk of leptospirosis, highlighting the need for strengthened health education, improved compliance with PPE use, and enhanced occupational health and safety systems as sustainable preventive measures.</p> <p><strong style="font-size: 0.875rem;"><strong>Keywords: Leptospirosis, Occupational Health, Qualitative Study, Sanitation Workers </strong><br /></strong></p> 2026-05-26T00:00:00+09:00 Copyright (c) 2026 Aerrosa Murenda Mayadilanuari, Meita Fransiska Dara Antindi, Aliya Rachma Tingka Pitatan, Adellia Retno Sulistyana, Crishtopher Arthur Fernando, Michael Benedict Sanjaya https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/article/view/534 ANALISIS SEBARAN KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KECAMATAN WERU, KABUPATEN SUKOHARJO 2026-04-11T22:39:01+09:00 Nina Arifah ninaarifah68@gmail.com Sinta Novratilova sinta.novratilova@gmail.com Wahyu Ratri Sukmaningsih wahyuratri@poltekindonusa.ac.id <p>Demam Berdarah <em>Dengue</em> (DBD) merupakan penyakit berbasis vektor yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan pola sebaran yang dipengaruhi faktor lingkungan dan kependudukan. Pendekatan analisis spasial skala mikro masih terbatas, sehingga diperlukan integrasi metode seperti autokorelasi, <em>overlay</em>, dan <em>buffering</em> untuk mendukung intervensi yang lebih tepat sasaran. Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, merupakan wilayah dengan kasus tertinggi pada tahun 2024. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola sebaran spasial kasus DBD serta hubungannya dengan kepadatan penduduk dan curah hujan. Metode yang digunakan adalah kuantitatif autokorelasi dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis melalui pemetaan tematik, <em>overlay</em>, <em>buffering</em>, serta uji <em>Bivariate Moran’s I</em> dan <em>Moran scatterplot</em> menggunakan data sekunder tahun 2024 tingkat desa. Hasil menunjukkan bahwa hubungan spasial antara kepadatan penduduk dan curah hujan dengan kasus DBD bersifat lemah dan tidak membentuk klaster signifikan (<em>Moran’s I</em> mendekati nol dan negatif). Namun, terdapat konsentrasi kasus tinggi di Desa Tegalsari dan Karakan yang dipengaruhi faktor lingkungan lokal seperti drainase dan kedekatan spasial. Kesimpulan menunjukkan bahwa distribusi DBD lebih dipengaruhi oleh heterogenitas lingkungan mikro dibandingkan faktor makro, sehingga pengendalian perlu difokuskan pada intervensi berbasis mikro area di sekitar zona risiko.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong><strong style="font-size: 0.875rem;">Analisis Spasial</strong><strong style="font-size: 0.875rem;">, Curah Hujan</strong><strong style="font-size: 0.875rem;">, Demam Berdarah <em>Dengue</em></strong><strong style="font-size: 0.875rem;">, Kepadatan Penduduk, Sistem Informasi Geografis<br /><br /></strong></p> <p>Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a vector-borne disease that remains a public health problem in Indonesia, with its distribution pattern influenced by environmental and demographic factors. Micro-scale spatial analysis approaches remain limited; therefore, the integrating of methods such as autocorrelation, overlay, and buffering is necessary to support more targeted interventions. Weru Subdistrict, Sukoharjo Regency, recorded the highest number of DHF cases in 2024. This study aimed to analyze the spatial distribution pattern of DHF cases and its relationship with population density and rainfall. The study employed a quantitative spatial autocorrelation approach using a Geographic Information System (GIS) framework, including thematic mapping, overlay, buffering, and Bivariate Moran’s I testing, and Moran scatterplot analysis based on village-level secondary data from 2024. The results showed that the spatial relationship between population density, rainfall, and DHF cases was weak and did not form significant clusters (Moran’s I values were colose to zero and negative). However, a high concentration of cases was identified in Tegalsari and Karakan Villages, which was influenced by local environmental factors such as drainage conditions and spatial proximity. In conclusion, the distribution of DHF was more strongly influenced by micro-environmental heterogeneity than by macro-level factors. Therefore, control strategies should focus on micro-area-based interventions in high-risk zones.</p> <p><strong>Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever, Geographic Information System, Population Density, Rainfall, Spatial Analysis</strong></p> <p><strong style="font-size: 0.875rem;"><br /><br /></strong></p> <p><br /><br /></p> 2026-05-26T00:00:00+09:00 Copyright (c) 2026 Nina Arifah, Sinta Novratilova, Wahyu Ratri Sukmaningsih https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/article/view/506 PENERAPAN METODE DOQ-IT DALAM MENGUKUR KESIAPAN IMPLEMENTASI REKAM MEDIS ELEKTRONIK DI RUMAH SAKIT X KOTA SURABAYA 2026-04-16T19:10:22+09:00 Ari Susanti arisusanti@stikeshangtuah-sby.ac.id Atika Mima Amalin atika@stikeshangtuah-sby.ac.id Nuke Amalia nuke-amalia@stikeshangtuah-sby.ac.id Windi Anindya Putri windianindya20@gmail.com <p>Persentase rumah sakit di Indonesia yang sudah menggunakan rekam medis elektronik hanya 12.8%. Kesiapan organisasi menerapkan rekam medis elektronik (RME) menjadi faktor utama keberhasilan penggunaan RME. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kesiapan implementasi RME di RS X Kota Surabaya menggunakan pendekatan DOQ-IT (<em>Doctors’ Office Quality–Information Technology</em>). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan analisis statistik deskriptif kemudian ditentukan nilai rata-rata dengan nilai <em>cut of</em><em>f point</em> 2 termasuk kategori siap mengimplementasikan RME. Desain penelitian menggunakan penelitian <em>cross sectional</em> yang melibatkan 58 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner DOQ-IT dan dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 12 aspek penilaian DOQ-IT, aspek keuangan yang paling siap mengimplementasikan RME sedangkan aspek proses alur kerja menjadi aspek yang belum siap dalam mengimplementasikan RME. Manajemen rumah sakit perlu memprioritaskan penyesuaian standar prosedur operasional RME dan koordinasi antar unit agar selaras dengan RME yang diterapkan.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong><strong style="font-size: 0.875rem;">DOQ-IT, </strong><strong style="font-size: 0.875rem;">Implementasi, Rekam Medis Elektronik, Rumah Sakit<br /><br /></strong></p> <p>Only 12.8% of hospitals in Indonesia have implemented electronic medical records (EMRs). Organizational readiness to implement EMRs is a major factor influencing the success of EMR implementation. This study aimed to assess the level of readiness for EMR implementation at Hospital X in Surabaya using the DOQ-IT (Doctors' Office Quality-Information Technology) approach. This study is employed a quantitative cross-sectional design involving 58 respondents. Data were collected using descriptive statistical analysis. A mean score with a cut-off point of 2 was used to determine the readiness category for EMR implementation. The results show that among the 12 DOQ-IT assessment aspects, the financial aspect was the most prepared for EMR implementation, while the workflow process aspect was identified as not yet ready for implementation. Hospital management should prioritize adjustments to EMR standard operating procedures and strengthen coordination among units to ensure alignment with the implemented EMR system.</p> <p><strong>Keywords : DOQ-IT, Electronic Medical Record, Hospital, Implementation</strong></p> <p><strong style="font-size: 0.875rem;"> </strong></p> 2026-05-26T00:00:00+09:00 Copyright (c) 2026 Ari Susanti, Atika Mima Amalin, Nuke Amalia, Windi Anindya Putri https://gk.jurnalpoltekkesjayapura.com/gk/article/view/493 PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN EFIKASI DIRI TENTANG ANEMIA DAN TABLET TAMBAH DARAH SISWI SMA SETELAH EDUKASI GIZI DENGAN NUVIQ 2025-08-05T19:37:44+09:00 Desak Putu Susinta Pradnyarini desakptsusinta@gmail.com I Wayan Ambartana wayanambartana@yahoo.co.id I Putu Suiraoka suiraoka@gmail.com <p>Anemia masih menjadi masalah kesehatan umum pada siswi di Indonesia, sedangkan kepatuhan dalam mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) masih rendah akibat kurangnya pengetahuan dan efikasi diri. Strategi edukatif yang menarik, seperti <em>Nutrition Video and Interactive Quiz (NUVIQ),</em> yang menggabungkan video edukasi dan kuis interaktif, dapat meningkatkan pemahaman dan keyakinan remaja dalam mengonsumsi TTD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi gizi berbasis NUVIQ terhadap pengetahuan dan efikasi diri siswi SMA mengenai anemia dan TTD. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan rancangan <em>pre-test and post-test with control group</em>. Sampel terdiri atas 170 siswi kelas X dan XI yang dibagi menjadi kelompok perlakuan dan kontrol, masing-masing 85 orang. Hasil uji <em>independent t-test</em> menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua kelompok (p &lt; 0,05). Dengan demikian, edukasi gizi menggunakan NUVIQ efektif meningkatkan pengetahuan dan efikasi diri siswi dalam pencegahan anemia.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong><strong style="font-size: 0.875rem;">Anemia, Edukasi gizi, Efikasi diri, Nutrition Video and Interactive Quiz (NUVIQ), Tablet Tambah Darah (TTD)<br /><br /></strong></p> <p>Anemia remains a common public health problem among female adolescents in Indonesia, while adherence to Iron Supplementation Tablets (Tablet Tambah Darah, TTD) remains low due to limited knowledge and self-efficacy. Engaging educational strategies, such as the Nutrition Video and Interactive Quiz (NUVIQ), which combines educational videos and interactive quizzes, may improve adolescents’ understanding and confidence in consuming TTD. This study aimed to examine the effect of NUVIQ-based nutrition education on knowledge and self-efficacy regarding anemia and TTD among female high school students. This study employed a quasi-experimental design with a pre-test and post-test control group design. The sample comprised 170 female students in grades X and XI, divided equally into intervention and control groups, with 85 participants in each group. Independent t-test analysis showed significant differences between the two groups (p &lt; 0.05). These findings indicate that NUVIQ-based nutrition education effectively improves students’ knowledge and self-efficacy in anemia prevention.</p> <p><strong>Keywords: Anemia, Iron Supplementation</strong><strong> Tablets, Nutrition Education, </strong><strong>Nutrition Video </strong><strong style="font-size: 0.875rem;"><strong>and Interactove Quiz (NUVIQ), Self-Efficacy</strong><br /></strong></p> 2026-05-26T00:00:00+09:00 Copyright (c) 2026 Desak Putu Susinta Pradnyarini, I Wayan Ambartana, I Putu Suiraoka